Architecture + Metamorphosis = Archimorphosis.
Berbicara tentang pengertian arsitektur bagi saya mengalami beberapa fase. Dulu ketika saya belum masuk jurusan arsitektur di UNSRAT setahu saya arsitektur itu bagaimana cara menggambar bangunan, tetapi setelah saya belajar tentang arsitektur didalamnya ada ilmu yang mempelajari tentang seni, nilai keindahan, struktur bangunan, kebudayaan, prilaku sosial, nilai ekonomi bangunan dan aspek-aspek lain dalam merancang bangunan. Sementara arsitektur menurut kamus Oxford yaitu art and science of building; design or style of building(s). adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Pengertian ini bisa lebih luas lagi, arsitektur melingkupi semua proses analisa dan perencanaan semua kebutuhan fisik bangunan. Pameo mengatakan: Architecture is silent language. Arsitektur merupakan bahasa yang tidak terucapkan ,namun dapat dimengerti para pemakainya
Metamorphosis sendiri menurut bahasa ilmiah adalah suatu perkembangan biologis fisikis hewan yang melibatkan perubahan penampilan struktur tubuh setelah penetasan. Jadi, archimorphosis diibaratkan sebagai perjalanan arsitektural yang berisi perubahan nilai dan pandangan seseorang tentang arsitektur
Ketika hidup dimulai dari sebentuk telur, lalu menjadi seekor ulat berbulu hitam terkadang bersemu hijau, lalu menutup diri menjadi sebongkah kepompong terbujur kaku yang menggantungkan hidupnya pada setangkai dahan atau dedaunan dan lalu menjadi sang hidup berwarna warni yang mari kita sebut ia sekarang, kupu-kupu.
Ber ”archimorphosis” adalah wujud kecintaan saya terhadap arsitektur, kecintaan saya terhadap diri sendiri dan kecintaan saya terhadap lingkungan kita. Layaknya kupu-kupu, proses kehidupan secara pribadi seyogyanya mengalami perubahan maju dari waktu ke waktu. Lalu, sang kupu-kupu membawa pesan kepada kita bahwa dia indah karena mengalami perjalanan kekonstitenan dari sebuah proses.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana keilmuan arsitektur ini muncul, terlebih karena betapa dalamnya keilmuan ini hingga seakan-akan bukan lagi sekedar keilmuan ke-teknik-kan, ke-seni-an, dan ke-sosial-an belaka. Tidak pernah terbayangkan pula sebelumnya bagaimana efek dari keilmuan arsitektur ini, terlebih karena di dalamnya melingkupi manusia yang mempunyai rasa, dan cakupan lingkungan yang mempunyai potensi.
Setiap perjalanan pendek ke beberapa kota di Indonesia telah menjadi ‘kursus-kursus’ singkat yang semakin lama semakin dalam. Ini bukan sekolah formal untuk ambil S2, tetapi sekolah non formal untuk mengalami ragam kebudayaan di negeri sendiri, dimana hal-hal yang baik dapat dijadikan teladan dalam mendesain, berpikir dan mengembangkan potensi dalam berarsitektur. Googling di internet tentang perkembangan arsitektur di negeri tetangga seperti kayu api yang membakar semangat untuk membangun negeri.
Think – Act and Change
Target setelah ber ”archimorphosis” adalah membentuk sebuah karakter dalam berarsitektur, menjadi arsitek yang gaul namun tidak salah jalur dan menjadi arsitek yang keren namun tetap kompeten sehingga saya berharap dapat menjadi arsitek yang mampu berpikir kreatif dan kritis (Think) serta mampu berperan aktif (Act) menciptakan sebuah perubahan dalam pencapaian kemajuan arsitektur tanpa meninggalkan lokalitas sekarang ini dan kedepannya (Change) .
Sudah kah kita ber ”archimorphosis” ?