Di dalam antrian menuju teller bank. Seperti biasa ketika memasuki sebuah ruang, mata ini sibuk mengamati detail interior ruang dan finishing arsitekturnya.
Mulai dari pola lantai, finihing dindingnya sampai pada element langit-langit dan sistem pecahayaan buatannya. Sebuah desain ruang dalam yang mencerminkan karakter dari bank yang bersangkutan, saya mengamati desain interiornya dan menurut saya ini sebuah desain yang sangat teliti dan memperhatikan hal-hal yang kecil, setiap ruangan disesuaikan disesuaikan dengan job atau pekerjaan dari personil yang akan menempatinya, memang karena desain ruang untuk Direksi, Manajer, Supervisor, Staff, sampai ke office boy tentunya akan berbeda-beda, dan perbedaan dari desain bank ini ditentukan oleh besar atau luasan ruangan, dan grade material-materialnya, menurut saya sang arsiteknya sangat memperhatikan letak atau posisi dari ruangan-ruangan sesuai fungsinya serta memperhatikan flow atau arus sirkulasi dari aktifitas personil-personil di bank ini.
Untuk dapat mewujudkan desain ruang dalam seperti ini agar sesuai dengan rencana desain tentunya diperlukan kontraktor interior yang berkualitas dengan kapasitas yang mencukupi untuk itu.
Sampai di teller mata ini tertuju pada sebuah rangkaian kalimat yang di beri frame dan menjadi elemen dekorasi dinding yang tak jauh dari samping kiri teller, kira-kira bunyinya seperti ini:
Ketika aku masih mudah dan bebas berhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia….Seiring dengan perkembangan usia dan kearifanku
kudapati bahwa dunia tidak mungkin ku ubah.Maka cita-cita itupun aku persempit,
lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku…Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya
Ketika usiaku makin senja, dengan semangat yang tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku,
tapi celakanya merekapun tak mau diubah.Dan kini sementara aku terbaring menanti ajal tiba,
kusadari andaikan yang pertama-tama kuubah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah keluargakuLalu berkat inspirasi dan dorongan mereka maka
bisa jadi akupun mampu untuk memperbaiki negeriku,
kemudian siapa tahu akupun bisa mengubah dunia.
Sambil mengamati gesitnya jari jemari sang teller, hati kecil saya bertanya “Apakah khayalan saya ketinggian? “Apakah mimpi-mimpi saya ini masih realistis?”
Mungkin sampai saat ini saya belum bisa merubah keadaan negeriku yang terkurung dalam sekat-sekat kaku birokrasi apalagi untuk merubah dunia “apa kata dunia?” kata bung Nagabonar,
Memang benar yang harus dirubah pertama kali adalah diri saya sendiri.
Ketika meninggalkan teller bank yang disambut senyuman ramah pak satpam yang dengan senang hati membuka pintu, seolah membuka pintu hati dan pikiran saya tentang pelajaran kehidupan dari sebuah elemen interior.
4 Comments
I like
the best
persepsi humaniora dari arsitek yang dikemas apik mas ipul
salam..
hehehhe, saya pun yang bukan seorang arsitek, tpi amat senng memperhtikan mnikmati dan mengmati jika melihat sebuah bangunan dan atau bgian dlam dari sebuah ruangan…
wah, memang rsanyaa kita harus merubah diri kita sendiri…
tapi saya teringt dengan kata-kata yang tertulis di ransel KBBI-PB Ed. keempat, ubah dunia dengan kata. mas sedng melakukannya melalui blog ini
tantangan paling besar untuk sebuah perubahan, menurut saya bukan pada ayunan langkah pertama, tapi lebih kepada konsistensi untuk tetap melangkah. kadang kita cepat lelah ya…:)
salam kenal
sulurliar